oleh: syamsu
Bumi merupakan planet yang di dalamnya terdapat beberapa komponen yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Litosfer, Hidrosfer, dan Atmosfer saling menjaga keadaan bumi untuk tetap bisa dihuni oleh manusia. Atmosfer merupakan bagian yang sangat mempengaruhi keadaan kehidupan di bumi. Perubahan kondisi atmosfer sekecil apapun di bumi sangat mempengaruhi kondisi kehidupan di bumi.
Dalam kehidupan manusia, telah banyak ditelaah kondisi atmosfer untuk mengetahui kondisi pasti serta mencoba menata kembali kondisi atmosfer yang berubah. Banyak cara yang dikembangkan untuk menerka dan menganalisis kondisi atmosfer (dalam kontek ini selanjutnya disebut sebagai cuaca) dalam jangka yang panjang. Namun tidak jarang masalah cuaca sampai saat ini belum dapat dipecahkan solusinya.
Perubahan iklim merupakan salah satu perubahan keadaan atmosfer yang saat ini sangat ramai dibicarakan. Sampai saat inipun belum secara signifikan dapat ditangani. Para ilmuwan mengkhawatirkan bila kondisi ini terus berlanjut tanpa bisa dikendalikan akan membuat kondisi bumi semakin berubah kearah yang lebih buruk. Disadari atau tidak, saat ini bumi telah mengalami kenaikan suhu rata-rata dari suhu normal.
Laporan dari IPCC (2007) menunjukan bahwa di Indonesia sendiri telah mengalami kenaikan suhu berkisar antara 0.20C sampai 10C dalam kurun waktu 1970 sampai 2004. Pada tingkat global, rata-rata temperatur permukaan bumi telah meningkat sebesar 0.760C sejak akhir abad 19 hingga permulaan abad 21. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Ditambah lagi bila kondisi ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan kenaikan suhu tersebut akan semakin bertambah. Penggunaan bahan bakar fosil serta energi yang berlebihan menyebabkan perubahan iklim ini semakin cepat. Lapisan atmosfer kita yang semakin tertutupi oleh gas-gas rumah kaca, membuat bumi semakin panas. Perubahan iklim berpotensi menyebabkan berbagai dampak pada kesehatan manusia dan perubahan lingkungan, misalnya kekeringan dan banjir, berkurangnya lahan yang produktif, berkurangnya garis pantai dan hilangnya pulau-pulau kecil serta semakin banyaknya vektor penyakit yang kian hari makin berkembang.
Dalam mempelajari iklim, kita harus selaras dengan alam. Banyak informasi-informasi alam yang kemudian sangat bermanfaat untuk kita jadikan sebagai tolak ukur untuk mengetahui kondisi iklim di suatu wilayah. Pengetahuan-pengetahuan tentang kondisi bumi masa lampau salah satunya. Banyak ilmuwan yang saat ini mengkaitkan kejadian masa lampau yang kemudian diproyeksikan dengan kondisi saat ini untuk mengetahui perubahan yang terjadi.
Iklim masa lampau tentu sangat sulit untuk kita ketahui. Ilmuwan memanfaatkan informasi dari fosil yang telah lama tersimpan. Informasi dari fosil ini yang kemudian disimpulkan menjadi sebuah informasi iklim masa lampau. Tentunya tidak semudah itu. Dalam mempelajari fosil, ilmuwan memerlukan waktu yang lama. Banyak telaah yang harus dilakukan agar hasil yang didapat representativ dengan kondisi saat ini.
Iklim sangat terkait dengan lingkungan. Dalam pengkajian kondisi iklim di suatu wilayah, faktor lingkungan berperan sebagai tolak ukur apakah iklim itu berubah atau tidak. Adanya perubahan iklim, akan menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan yang berakibat adanya penurunan kualitas lingkungan yang pada akhirnya akan mempengaruhi manusia di bumi. Pertambahan penduduk, penggunaan energi yang berlebihan, pengalihan fungsi dan konversi hutan, eksploitasi sumberdaya alam serta pelepasan gas karbondioksida secara berlebihan dari industri dan transportasi yang tidak ramah lingkungan secara nyata menyebabkan perubahan iklim dan lingkungan.
Saat ini, masalah pertambahan penduduk dunia menjadi kajian yang terkait dengan tidak seimbangnya kebutuhan pangan. Untuk pemenuhan pangan, seringkali dilakukan “pengeksploitasian” sumberdaya alam yang berlebihan. Eksploitasi sumberdaya alam yang tidak memperhatikan kaidah lingkungan membuat kondisi lingkungan semakin rusak.
Dalam pengelolaan lingkungan, adakalanya kita juga memperhatikan kondisi iklim dalam wilayah kajian. Keberadaan iklim disuatu wilayah menentukan langkah apa yang harus dilakukan agar tercapainya keberhasilan dalam sistem pengelolaan lingkungan. Sebagai contoh, dalam pengkaijan dampak lingkungan untuk sebuah pengusahaan hutan. Saat ini banyak konversi lahan hutan untuk budidaya perkebunan. Tentu maksudnya juga baik. Namun, dalam pengusahaan tersebut hendaknya kita juga mengkaji dampak lingkungan atau iklim yang akan ditimbulkan.
Dalam kondisi saat ini, hal yang perlu kita lakukan adalah kembali menyelaraskan alam kita agar tercapai keseimbangan antar komponen yang ada di bumi. Kembali ke ranah yang lebih “hijau” memungkinkan tercapainya keseimbangan bumi kita. Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, hemat energi, dan menerapkan prinsip 3R dapat kita upayakan untuk mengurangi dampak perubahan iklim. “Go green and let’s together”. Sekecil apapun yang kita lakukan untuk kebaikan bumi, akan kita rasakan untuk kepentingan masa mendatang. Karena perubahan iklim juga akan mengakibatkan perubahan pada lingkungan yang di huni oleh kita semua.
Bumi merupakan planet yang di dalamnya terdapat beberapa komponen yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Litosfer, Hidrosfer, dan Atmosfer saling menjaga keadaan bumi untuk tetap bisa dihuni oleh manusia. Atmosfer merupakan bagian yang sangat mempengaruhi keadaan kehidupan di bumi. Perubahan kondisi atmosfer sekecil apapun di bumi sangat mempengaruhi kondisi kehidupan di bumi.
Dalam kehidupan manusia, telah banyak ditelaah kondisi atmosfer untuk mengetahui kondisi pasti serta mencoba menata kembali kondisi atmosfer yang berubah. Banyak cara yang dikembangkan untuk menerka dan menganalisis kondisi atmosfer (dalam kontek ini selanjutnya disebut sebagai cuaca) dalam jangka yang panjang. Namun tidak jarang masalah cuaca sampai saat ini belum dapat dipecahkan solusinya.
Perubahan iklim merupakan salah satu perubahan keadaan atmosfer yang saat ini sangat ramai dibicarakan. Sampai saat inipun belum secara signifikan dapat ditangani. Para ilmuwan mengkhawatirkan bila kondisi ini terus berlanjut tanpa bisa dikendalikan akan membuat kondisi bumi semakin berubah kearah yang lebih buruk. Disadari atau tidak, saat ini bumi telah mengalami kenaikan suhu rata-rata dari suhu normal.
Laporan dari IPCC (2007) menunjukan bahwa di Indonesia sendiri telah mengalami kenaikan suhu berkisar antara 0.20C sampai 10C dalam kurun waktu 1970 sampai 2004. Pada tingkat global, rata-rata temperatur permukaan bumi telah meningkat sebesar 0.760C sejak akhir abad 19 hingga permulaan abad 21. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Ditambah lagi bila kondisi ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan kenaikan suhu tersebut akan semakin bertambah. Penggunaan bahan bakar fosil serta energi yang berlebihan menyebabkan perubahan iklim ini semakin cepat. Lapisan atmosfer kita yang semakin tertutupi oleh gas-gas rumah kaca, membuat bumi semakin panas. Perubahan iklim berpotensi menyebabkan berbagai dampak pada kesehatan manusia dan perubahan lingkungan, misalnya kekeringan dan banjir, berkurangnya lahan yang produktif, berkurangnya garis pantai dan hilangnya pulau-pulau kecil serta semakin banyaknya vektor penyakit yang kian hari makin berkembang.
Dalam mempelajari iklim, kita harus selaras dengan alam. Banyak informasi-informasi alam yang kemudian sangat bermanfaat untuk kita jadikan sebagai tolak ukur untuk mengetahui kondisi iklim di suatu wilayah. Pengetahuan-pengetahuan tentang kondisi bumi masa lampau salah satunya. Banyak ilmuwan yang saat ini mengkaitkan kejadian masa lampau yang kemudian diproyeksikan dengan kondisi saat ini untuk mengetahui perubahan yang terjadi.
Iklim masa lampau tentu sangat sulit untuk kita ketahui. Ilmuwan memanfaatkan informasi dari fosil yang telah lama tersimpan. Informasi dari fosil ini yang kemudian disimpulkan menjadi sebuah informasi iklim masa lampau. Tentunya tidak semudah itu. Dalam mempelajari fosil, ilmuwan memerlukan waktu yang lama. Banyak telaah yang harus dilakukan agar hasil yang didapat representativ dengan kondisi saat ini.
Iklim sangat terkait dengan lingkungan. Dalam pengkajian kondisi iklim di suatu wilayah, faktor lingkungan berperan sebagai tolak ukur apakah iklim itu berubah atau tidak. Adanya perubahan iklim, akan menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan yang berakibat adanya penurunan kualitas lingkungan yang pada akhirnya akan mempengaruhi manusia di bumi. Pertambahan penduduk, penggunaan energi yang berlebihan, pengalihan fungsi dan konversi hutan, eksploitasi sumberdaya alam serta pelepasan gas karbondioksida secara berlebihan dari industri dan transportasi yang tidak ramah lingkungan secara nyata menyebabkan perubahan iklim dan lingkungan.
Saat ini, masalah pertambahan penduduk dunia menjadi kajian yang terkait dengan tidak seimbangnya kebutuhan pangan. Untuk pemenuhan pangan, seringkali dilakukan “pengeksploitasian” sumberdaya alam yang berlebihan. Eksploitasi sumberdaya alam yang tidak memperhatikan kaidah lingkungan membuat kondisi lingkungan semakin rusak.
Dalam pengelolaan lingkungan, adakalanya kita juga memperhatikan kondisi iklim dalam wilayah kajian. Keberadaan iklim disuatu wilayah menentukan langkah apa yang harus dilakukan agar tercapainya keberhasilan dalam sistem pengelolaan lingkungan. Sebagai contoh, dalam pengkaijan dampak lingkungan untuk sebuah pengusahaan hutan. Saat ini banyak konversi lahan hutan untuk budidaya perkebunan. Tentu maksudnya juga baik. Namun, dalam pengusahaan tersebut hendaknya kita juga mengkaji dampak lingkungan atau iklim yang akan ditimbulkan.
Dalam kondisi saat ini, hal yang perlu kita lakukan adalah kembali menyelaraskan alam kita agar tercapai keseimbangan antar komponen yang ada di bumi. Kembali ke ranah yang lebih “hijau” memungkinkan tercapainya keseimbangan bumi kita. Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, hemat energi, dan menerapkan prinsip 3R dapat kita upayakan untuk mengurangi dampak perubahan iklim. “Go green and let’s together”. Sekecil apapun yang kita lakukan untuk kebaikan bumi, akan kita rasakan untuk kepentingan masa mendatang. Karena perubahan iklim juga akan mengakibatkan perubahan pada lingkungan yang di huni oleh kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar